Ajeg Bali

Simbol Transformasi dan Penyucian Diri, Desa Adat Calo Lestarikan Tradisi Nampyog

 Kamis, 16 Januari 2025 | Dibaca: 1363 Pengunjung

Bertepatan pada upacara ngusaba Puseh Desa Adat Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, dilakukan tradisi Nampyog atau metabuh geni, dengan menginjak api.

www.mediabali.id, Gianyar. 

Ritual dengan aksi menginjak api atau tradisi Nampyog digelar Desa Adat Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, pada saat Purnama Kapitu. Menginjak api di dalam Pura bermakna mendalam, berkaitan dengan simbol transformasi, pembersihan dan penyucian diri.

Tradisi Nampyog digelar serangkaian ngusabha Puseh, Desa Adat Calo, Desa Pupuan, Kec. Tegallalang, Gianyar. Tradisi Nampyog dilakukan di upacara tertentu sebagai bagian dari perjalanan spiritual seseorang, baik sebagai bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi atau sebagai proses introspeksi diri. 

Jero Bendesa Adat Calo Ir. I Nyoman Eriawan mengatakan tradisi Nampyog memiliki makna spiritual sebagai penyucian dan pemurnian diri dalam tradisi Bali. Api dilambangkan menjadi unsur penyucian.

"Menginjak api di dalam Pura adalah simbol pembersihan dari energi negatif, karma buruk, dan pengaruh duniawi yang menghalangi jalan menuju kedamaian batin. Ritual ini menandakan bahwa seseorang siap untuk memasuki tahap baru yang lebih suci," ujarnya, Kamis (16/1) kemarin.

Sebagai simbol transformasi, di mana api menjadi elemen yang membakar dan mengubah. Dalam konteks spiritual, menginjak api menandakan bahwa seseorang melepaskan sifat-sifat buruk seperti ego, kemarahan, dan kebingungan, serta membuka diri untuk perubahan positif. 

"Api juga sebagai simbol tantangan, kekuatan, dan ujian. Dalam spiritualitas Bali, menginjak api menunjukkan keberanian seseorang untuk menghadapi tantangan hidup dengan keyakinan kepada Tuhan (Hyang Widhi) dan keyakinan pada diri sendiri. Termasuk meningkatkan bakti hubungan dengan Dewa Agni dalam kepercayaan Hindu-Bali," terangnya.

Menurut Manggala Sabha Desa Adat Calo, Pasek Dek Agus Sudianta, tradisi Nampyog di Desa Adat Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, sejak lama memakai sarana api.

Bagi Pasek Dek Agus yang juga alumni IHDN Denpasar, ritual ini umumnya dilakukan dalam upacara tertentu sebagai bagian dari perjalanan spiritual seseorang. Sebab, menjadi bentuk persembahan kepada Hyang Widhi atau sebagai proses introspeksi diri menjadi lebih baik lagi.

“Makna spiritualnya berupa penyucian dan pemurnian diri. Dalam tradisi Bali, api melambangkan unsur penyucian,” ucapnya.

Simbol pembersihan dari energi negatif, karma buruk, dan pengaruh duniawi yang menghalangi jalan menuju kedamaian batin juga dikaitkan dengan tradisi Nampyog. Menjadi tanda seseorang untuk memasuki tahapan baru menuju kesucian dan kedamaian lebih tinggi.

Menginjak api dipercaya melepaskan sifat-sifat buruk seperti ego, kemarahan, kebingungan, dan membuka diri untuk perubahan positif. Hal ini menjadi simbol transformasi karena api adalah elemen yang membakar dan mengubah. 

“Tentu api menjadi suatu proses transformasi dari keadaan “asuri sampad” (sifat buruk) menuju “daivi sampad” (sifat ilahi). Api menjadi simbol keberanian dalam menjalani kehidupan. Api adalah simbol tantangan, kekuatan, dan ujian. Dalam spiritualitas Bali, menginjak api menunjukkan keberanian seseorang untuk menghadapi tantangan hidup dengan keyakinan kepada Tuhan (Hyang Widhi) dan keyakinan pada diri sendiri," tandasnya. 012

 


 


TAGS :