Sosial
Prevalensi Stunting Bali Turun 2,9 Persen Jadi 8,0
Kamis, 02 Februari 2023 | Dibaca: 604 Pengunjung
Upaya yang dilakukan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali bersama seluruh elemen pendukung di Provinsi Bali dalam menekan prevalensi stunting selama setahun terakhir membuahkan hasil menggembirakan. Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang dirilis belum lama ini, prevalensi stunting Provinsi Bali turun 2,9 persen dari 10,9 persen menjadi 8,0 persen.
Capaian penurunan stunting Provinsi Bali menjadikan Bali sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terendah. Bali juga satu-satunya provinsi di Indonesia yang berhasil membubukan prevalensi stunting menjadi satu digit. “Menurut data SSGI 2022, secara nasional Indonesia berhasil menurunkan prevalensi stunting sebesar 2,8 dari 24,4 persen pada 2021 menjadi 21,6 persen pada 2022. Sejalan dengan capaian nasional, Bali juga mengalami penurunan, tepatnya sebesar 2,9 persen dari 10,9 persen menjadi 8,0 persen,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Bali, dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS di Kantor Perwakilan BKKBN Bali, Denpasar, Kamis (2/2).
Baca juga:
Tipikor SPI Jalur Mandiri Coreng Citra Unud, Tiga Tersangka Ditetapkan Kejati Bali
Jika dirinci per kabupaten, prevalensi stunting di Bali tampak dinamis. Ada tujuh kabupaten/kota mencatat penurunan prevalensi stunting, sedangkan dua lainnya, yakni Buleleng dan Gianyar mengalami peningkatan. Sementara itu, lima dari sembilan kabupaten, yakni Jembrana, Buleleng, Karangasem, Bangli, dan Tabanan tercatat mencatatkan prevalensi stunting di atas rata-rata provinsi.
Luh De merinci, Kabupaten Jembrana pada tahun 2022 hanya mampu menurunkan prevalensi stunting sebesar 0,01 persen, dari 14,3 persen (2021) menjadi 14,2 persen. Selanjutnya, Buleleng naik 2,1 persen dari 8,9 persen (2021) menjadi 11,0 persen. Adapun torehan positif dicatatkan Karangasem yang berhasil menurunkan prevalensi stuntingnya cukup signifikan yakni sebesar 13,7, dari 22,9 persen (2021) menjadi 9,2 persen (2022).
Baca juga:
Pegadaian Peroleh Laba Bersih di Tahun 2022 Sebesar Rp 3,29 Triliun
Selanjutnya, Kabupaten Bangli yang pada 2021 mencatat prevalensi stunting sebesar 11,8 persen pada tahun 2022 berhasil menurunkannya ke angka 9,1 persen. Tabanan berhasil menurunkan prevalensi stunting sebesar 1,0 persen dari 9,2 persen (2021) ke 8,2 persen (2022). Penurunan signifikan sebesar 11,7 persen juga dialami Klungkung, di mana pada 2021 angka stunting di Bumi Serombotan tercatat 19,4 persen, namun di tahun 2022 berhasil turun menjadi 7,7 persen.
Kabupaten Badung tahun 2022 membukukan prevalensi stunting sebesar 6,6 persen, turun dibanding tahun 2021 yang sebesar 8,7 persen. Selanjutnya, Kabupaten Gianyar yang tahun 2021 lalu tercatat sebagai kabupaten dengan prevalensi stunting terendah di Bali posisinya kini tergeser. Meskipun pada tahun 2022 Ginyar masih menjadi kabupaten dengan prevalensi stunting terendah nomor dua di Bali, namun angkanya justru terpantau naik 1,2 persen dari sebesar 5,1 persen (2021) menjadi 6,3 persen (2022). Sementara itu, Kota Denpasar mencatat prevalensi stunting 2022 sebesar 5,5 persen atau turun 3,5 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 9,0 persen.
Berkaca pada data SSGI Provinsi Bali tahun 2022, Luh De mengamati masih ada disparitas stunting di Bali. Oleh karenanya, ia mengajak seluruh elemen untuk terus bekerja meningkatkan kualitas kependudukan. “Dari prevalensi stunting Provinsi Bali sebesar 8 persen itu, masih ada disparitas. Masih ada perbedaan antara satu kabupaten/kota dengan yang lainnya. Dua kabupaten, yakni Jembrana dan Buleleng juga masih tinggi,” kata dia.
Baca juga:
Rusak Rolling Door dan Gasak Uang, Pelaku Gede Gunawan Ditangkap Reskrim Polsek Densel
Ke depan pihaknya juga berkomitmen terus meningkatkan dan mengoptimalkan Program Bangga Kencana di masyarakat. “Stunting jadi perhatian penting karena dapat menghambat terwujudkan SDM berkualitas. Jika SDM tidak berkualitas, kita tidak bisa bersaing. Harapan Presiden Jokowi dapat mewujudkan Indonesia Emas 2045. Maka, kita semua upayakan peningkatan kualitas kepenendudukan agar usia produktif di masa itu bisa berkualitas. Kalau generasi produktif kita ke depan banyak yang stunting tidak bisa berpartisipasi dalam pembangunan nasional,” tegasnya.
Selain menjadi provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia, Bali juga berhasil mencatatkan diri sebagai provinsi dengan prevalensi balita wasted (berat badan menurut tinggi badan) terendah, yakni 2,8 persen dari 7,7 persen rata-rata nasional serta sebagai provinsi dengan balita underweight (berat badan menurut umur) terendah, yakni sebesar 6,6 persen dari 17,1 persen rata-rata nasional. Sementara itu untuk prevalensi balita overweight (berat badan menurut tinggi badan), Bali berada di lima besar nasional dengan rata-rata provinsi lebih besar dari rata-rata nasional, yakni sebesar 4,7 persen dari rata-rata nasional sebesar 3,5 persen. 005
TAGS :